BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Menurut pengertian modern,rancangan pembelajaran meliputi segala aspek
kehidupan dan lapangan hidup manusia dalam masyarakat modern ini yang dapat
dimasukkan ke dalam tanggung jawab sekolah,yang dapat dipergunakan untuk
mengembangkan pribadi murid serta memberi sumbangan untuk memperbaiki kehidupan
masyarakat.Rancangan pembelajaran meliputi metode dan stratergi pembelajaran,
media pembelajaran, dan evaluasi belajar.
Dari pengertian tersebut diatas jelaslah bahwa rancangan pembelajaran bukan
hanya tercantum di dalam buku, melainkan mencakup semua kegiatan yang dilakukan
untuk mencapai tujuan sekolah, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rancangan pembelajaran sekolah di arakan
untuk mencapai tujuan pendidikan.Tujuan pendidikan harus sejalan dengan
tuntunan pembangunan yang sedang dilaksanakan oleh pemerintah dan rakyat
Indonesia.
B. RUMUSAN MASALAH
Untuk mengetahui rancangan pembelajaran maka kita harus mengetahui beberapa
aspek yang berhubungan dengan rancangan pembelajaran diantaranya:
1. Metode dan stratergi apa saja yang digunakan dalam rancangan
pembelajaran?
2. Media pembelajaran apa saja yang termasuk dalam rancangan
pembelajaran?
3. Apa yang dimaksud dengan Evaluasi belajar?
C. TUJUAN
Dengan mempelajari apa yang dimaksud dengan rancangan pembelajaran kita dapat
mengetahui dengan lebih pasti apa itu rancangan pembelajaran.Kita juga akan
jauh lebih mengenal bermacam-macam metode dan stratergi dalam sebuah rancangan
pembelajaran.Selain itu kita akan lebih mengenal media-media yang termasuk
kedalam rancangan pembelajaran.Dan terakhir kita dapat mengevaluasi rancangan
pembelajaran.setelah kita mengetahui semuanya maka kita sebagai mahasiswa dapat
menerapkan yang kita peroleh dalam kehidupan masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Metode dan stratergi pembelajaran
1. Metode pembelajaran
Metode Psikologi Pendidikan
Kebanyakan psikolog menganggap kegeiatan belajar-mengajar manusia adalah topik
paling penting dalam studi psikologi. Demikian pentingnya arti belajar sehingga
nyaris tak satu pun aspek kehidupan manusia yang terlepas dari belajar. Namun,
perbedaan persepsi, (pemahaman atas dasar tanggapan) mengenai arti dan
seluk-beluk belajar selalu muncul dari waktu ke waktu dan dari generasi ke
generasi berikutnya.
Istilah dari metode berasal dari kata methodos yang berasal dari yunani yang
berarti jalan atau cara. Dalam filsafat dan ilmu pengetahuan metode artinya
cara memikirkan dan memeriksa suatu hal yang menurut rencana tertentu. Didalam
dunia pengajaran metode adalah suatu rencana penyajian yang menyeluruh dengan
urutan yang sistematis berdasarkan approach tertentu.jadi metode merupakan cara
melaksanakan pekerjaan, sedangkan approach bersifat filosofis/aksima. Karena itu
dari suatu approach dapat tumbuh metode memikri-memoriasi (memon), metode
pattern-practice (pola-pola praktis), metode lainnya mengutamakan kemampuan
berbahasa, khususnya kemampuan berbicara (bahasa lisan) melalui latihan
intensif (drill). Cognitive cove learning theory melahirkan metode gramatika
terjemahan yang mengutamakan penguasa kaidah tata bahasa dan pengetahuan
tentang bahasa.[1]
Pada umumnya, para ahli psikologi pendidikan melakukan riset psikologis di
bidang kependidikan dengan memanfaatkan beberapa metode penelitian tertentu
seperti : a) eksperimen; b) kuesioner; c) Studi kasus; d) Penyelidikan klinis;
dan e) Observasi naturalistic. Di samping lima macam metode diatas , H.C.
Witherington menyebut satu metode lagi yang bernama metode filosofis atau
spekulatif.[2]
A. Metode Eksperimen
Dalam penelitian eksperimental objek yang akan diteliti dibagi kedalam dua
kelompok, yakni: 1) kelompok percobaan (eksperimental group); 2) kelompok
pembanding (control group).
B. Metode Kuesioner
Penggunaan metode kuesioer dalam riset-riset sosial termasuk bidang psikologi
pendidikan relative lebih menonjol bila dibandingkan dengan penggunaan
metode-metode lainnya. Gejala dominasi (penguasaan/kemenonjolan) penggunaan
metode ini muncul karena lebih banyak sample yang bias dijangkau disamping unit
cost (biaya satuan) perrresponden lebih murah.
C. Metode Studi Kasus
Studi kasus (case study) ialah sebuah metode penelitian yang digunakan untuk
memperoleh gambaran yang rinci mengenal aspek-aspek psikologis seorang siswa
atau sekelompok siswa tertentu.
D. Metode Penyelidikan Klinis
Sasaran yang akan dicapai oleh penelitian dengan metode klinis terutama untuk
memastikan sebab-sebab timbulnya ketidak normalam perilaku seorang siswa atau
sekelompok kecil siswa. Kemudian, berdasarkan kepastian faktor penyebab itu
penelitian berupaya memilih dan menentukan cara-cara yang tepat untuk mengatasi
penyimpangan tersebut.
E. Metode Observasi Naturalistik
Metode Observasi Naturalistik (naturalistic observation) adalah sejenis
observasi yang dilakukan secara alamiah. Dalam hal ini, peneliti berada di luar
objek yang diteliti atau ia tidak menampakkan diri sebagai orang yang sedang
melakukan penelitian.
Metode-metode Penyelidikan Dalam Psikologi
A. Metode Filosofis
Metode yang bersifat filosofis ini dapat dibagi menjadi tiga bagian sebagai
berikut:
1. Metode Intuitif
2. Metode Kontemplatif
3. Metode Yang Bersifat Filosofis Religius
B. Metode Empiris
Agus Sujanto (1981:10) membedakan metode yang bersifat empiris menjadi empat
bagian, yaitu:
(1) Metode observasi,
a. Intropeksi
b. Ektrospeksi
(2) Metode pengumpulan bahan,
a. Metode Angket
b. Autobiografi (Riwayat Hidup)
c. Pengumpulan Hasil Kerja
(3) Metode Eksperimen,dan
(4) metode Klinis.[3]
Untuk menarik perhatian peserta didik seseorang guru harus memiliki beberapa
metode-metode yang efektif diantaranya seperti:
1. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan semangat,
termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan
pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
2. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih
menarik dan menyediakan ‘pojok baca’.
3. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk
cara belajar kelompok.
4. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu
masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan
lingkungan sekolahnya.[4]
2. STRATERGI PEMBELAJARAN
Stratergi pembelajaran ini umum disebut dengan stratergi pembelajaran aktif.
Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk
belajar secara aktif.Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka
yang mendominasikan aktifitas pembelajaran.dengan ini mereka secara aktif
menggunakan otak, baik untuk menentukan ide pokok dari materi kuliah,
memecahkan persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari
kedalam suatu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata.dengan belajar aktif
ini, peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran,
tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya
peserta didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil
belajar dapat dimaksimalkan.[5]
Untuk menerapkan metode dan stratergi pembelajaran perlu diperhatikan juga
proses-proses dalam belajar.selain itu kita juga perlu memperhatikan
faktor-faktor yang memepengaruhi perilaku belajar mengajar. Secara fundamental
Dollar dan Miller (Loree, 1970:1360) menegaskan bahwa keefektifan perilaku
belajar itu dipengaruhi oleh empat hal, yaitu:
a. Adanya motivasi (drives), siswa harus menghendaki sesuatu (the learner must
want something).
b. Adanya perhatian dan mengetahui sasaran (cue), siswa harus memeperhatikan
sesuatu (the learner must notice something)
c. Adanya usaha (response), siswa harus melakukan sesuatu (the learner must do
something)
d. Adanya evaluasi dan pemantapan hasil (reinforcement) siswa harus memperoleh
sesuatu (the learner must get something).[6]
B. Media pembelajaran
Pengertian media berasal dari bahasa latin medius yang secara harafiah berarti
‘tengah’,’perantara’,atau ‘pengantar’. Dalam bahasa arab media adalah perantara
atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Gerlach dan Ely (1871)
mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia,
materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat manusia mampu
memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini, guru,
buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media.Secara garis khusus,
pengertian media dalam proses belajar cenderung diartikan sebagai alat-alat
grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun
kembali informasi visual atau verbal.[7]
Istilah “media” bahkan sering dikaitkan atau dipergantikan dengan kata
“teknologi” yang berasal dari kata latin tekne (bahasa Inggris art) dan logos
(bahasa Indonesia “ilmu”)
Menurut Webster (1983: 105), “art” adalah keterampilan (skill) yang diperoleh
lewat pengalaman, studi dan observesi. Dengan demikian, teknologi tidak lebih
dari suatu ilmu yang membahas tentang keterampilan yang diperoleh lewat
pengalaman, studi, dan observasi. Bila dihubungkan dengan pendidikan dan
pembelajaran, maka teknologi mempunyai pengertian sebagai:
Perluasan konsep tentang media, di mana teknologi bukan sekedar
benda,alat,bahan atau perkakas, tetapi tersimpul pula sikap, perbuatan,
organisasi dan menajemen yang berhubungan dengan penerapan ilmu. (Achsin, 1986:
10)
Berdasarkan uraian beberapa batasan tentang media di atas, berikut dikemukakan
cirri-ciri umum yang terkandung pada setiap batasan itu.
1. Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal
sebagai hardware (perangkat keras), yaitu sesuatu benda yang dapat dilihat,
didengar, atau diraba dengan pancaindera.
2. Media pendidikan memiliki pengertian nonfisik yang dikenal sebagai software
(perangkat lunak), yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras
yang merupakan isi yang ingin disampaikan kepada siswa.
3. Penekanan media pendidikan terdapat pada visual dan audio.
4. Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik di
dalam maupun di luar kelas.
5. Media pendidikan digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan
siswa dalam proses pembelajaran.
6. Media pendidikan dapat digunakan secara massal (misalnya: radio, televise),
kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya film, slide, video, OHP), atau
perorangan (misalnya: modul, komputer, radio tape/kaset, video recorder).
7. Sikap, perbuatan, organisasi, strategi, dan manajemen yang berhubungan
dengan penerapan suatu ilmu.
A. Landasan Teoretis Pengguna Media Pendidikan
Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan, perubahan-perubahan sikap dan prilaku
dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang
pernah dialami sebelumnya. Menurut Bruner (1966: 10-11) ada tiga tingkatan
utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung (enactive), pengalaman
pictorial/gambar (iconic), dan pengalaman abstrak (symbolic). Pengalaman
langsung adalah mengerjakan, misalnya arti kata ‘simpul’ dipahami dengan
langsung membuat ‘simpul’. Pada tingkatan kedua yang diberi label iconic
(artinya gambar atau image), kata ‘simpul’ dipelajari dari gambar, lukisan,
foto, atau film. Meskipun siswa belum pernah mengikat tali untuk membuat
‘simpul’mereka dapat mempelajari dan memahaminya dari gambar, lukisan, foto,
atau film. Selanjutnya pada tingkatan symbol, siswa membaca (atau mendengar)
kata ‘simpul’ pada image mental atau mencocokannya dengan pengalamannya membuat
‘simpul’. Ketiga tingkat pengalaman ini saling berinteraksi dalam upaya
memperoleh ‘pengalaman’ (pengetahuan, keterampilan, atau sikap) yang baru.
C. Ciri-Ciri Media Pendidikan
Gerlach & Ely (1971) mengemukakan tiga ciri media yang merupakan petunjuk
mengapa media digunakan dan apa-apa saja yang dapat dilakukan oleh media yang
mungkin guru tidak mampu (atau kurang efesien) melakukannya
a. Ciri Fiksatif (fixative property)
Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan,
melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek.
b. Ciri Manipulatif (Manipulative property)
Transpormasi suatu kejadian atau objek dimungkinkan karena media
memiliki ciri manipulatif
c. Ciri Distributif (Distributive Property)
Ciri distributif dari media memungkinkan suatu objek atau kejadian
ditransportasikan melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian tersebut
disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif
sama mengenai kejadian itu.
C. Fungsi Dan Manfaat Media Pendidikan
Dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang amat penting adalah metode
mengajar dan media pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan
salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran
yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan
dalam memilih media, antara lain tujuan pembelajaran, jenis tugas dan respon
yang diharapkan siswa kuasai setelah pembelajaran berlangsung, dan konteks
pembelajaran termasuk karakteristik siswa. Meskipun demikian, dapat dikatakan
bahwa salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu
mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang
ditata dan diciptakan oleh guru.
Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan
perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan
makna visual yang ditampilkan atau menyertaiteks materi pelajaran. Fungsi
afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika
belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau lambang visual dapat
menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut masalah
social atau ras. Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan
penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar
pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung
dalam gambar. Fumgsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil
penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks
membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dwlam
teks dan mengingatnya kembali. Berbagai menfaat media pembelajaran telah
dibahas oleh banyak ahli. Menurut Kemp & Dayton (1985: 3-4) meskipun telah
lama disadari bahwa banyak keuntungan penggunaan media pembelajaran,
penerimaannya serta pengintegrasiannya ke dalam program-program pengajaran
berjalan amat lambat. Mereka mengemukakan beberapa hasil penelitian yang
menunjukkan dampak positif dari penggunaan media sebagai bagian integral di
kelas sebagai cara utama pembelajaran langsung sebagai berikut:
1. Penyimpanan pelajaran menjadi lebih baku. Setiap pelejaran yang melihat atau
mendengar penyajian meelalui media menerima pesan yang sama. Meskipun para guru
menafsirkan isi pelajaran dengan cara yang berbeda-beda, dengan penggunaan
media ragam hasil tefsiran itu dapat dikurangi sehingga informasi yang sama
dapat disampaikan kepada siswa sebagai landasan uantuk pengkajian, latihan, dan
aplikasi lebih lanjut.
2. Pembelajaran bias menarik. Media dapat diasosiasikan sebagai penarik
perhatian dan membuat siswa tetap terjaga dan memperhatikan. Kejelasan dan
keuntungan pesan, daya terik image yang berubah-ubah, penggunaan efekkhusus
yang dapat menimbulkan keingintahuan menyebabkan siswa tertawa dan berfikir,
yang kesemuanya menunjukkan bahwa media memiliki aspek motivasi dan meningkatkan
minat.
3. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterapkannya teori belajar dan
prinsip-prinsip psikologis yang diterima dalam hal partisipasi siswa, umpan
balik, dan penguatan.
4. Lama waktu pembelajaran yang diperlukan dapat dipersingkat karena kebanyakan
media hanya memerlukan waktu singkat untuk mengantarkan pesan-pesan dan isi
pelajaran dalam jumlah yang cukup banyak dan kemungkinannya dapat diserap oleh
siswa.
5. Kualatas hasil belajar dapat ditingkatkan bilamana integrasi kata dan gambar
sebagai media pembelajaran dapat mengkomunikasikan elemen-elemen pengetahuan
dengan cara yang terorganisasikan dengan baik, spesifik, dan jelas.
6. Pembelajaran dapat diberikan kapan dan di mana diinginkan atau diperlukan
terutama jika media pembelajaran dirancang untuk penggunaan secara individu.
7. Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap proses
belajar dapat ditingkatkan.
8. Peran guru dapat berubah kea rah yang lebih positif; beban guru untuk
penjelasan yang berulang-ulang mengenai isi pelajaran dapat dikurangi bahkan
dihilangkan sehingga ia dapat memusatkan perhatian kepada aspek penting lain
dalam proses belajar mengajar, misalnya sebagai konsultan atau penasihat siswa.
D. Pengenalan Beberapa Media
Berdasarkan perkembanga teknologi tersebut, media pembelajaran dapat
dikelompokkan ke dalam empat kelompok, yaitu (1) media hasil teknologi cetak,
(2) media hasil teknologi audio-visual, (3) media hasil teknologi yang
berdasarkan komputer, dan (4) media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer.
Teknologi cetak adalah cara untuk menghasilkan atau menyimpan materi, seperti
buku dan materi visual statis terutama melalui proses pencetakan mekanis atau
fotografis,.Teknologi cetak memiliki ciri-ciri berikut:
a. Teks dibaca secara linear, sedangkan visual diamati berdasarkan ruang;
b. Baik teks maupun visual menampilkan komunikasi satu arah dan reseftif;
c. Beks dan visual ditampilkan statis (diam);
d. Pengembangannya sangat tergantung pada prinsip-prinsip kebahasan dan
presepsi visual;
e. Baik teks maupun visual berorientasi (berpusat) pada siswa;
f. Informasi dapat diatur kembali atau ditata ulang oleh pemakai.
Teknologi audio-visual cara menghasilkan atau menyampaikan materi dengan
menggunakan mesin-mesin mekanis dan elektronik untuk menyajikan pesan-pesan
audio dan visual.Ciri-ciri utama audio-visual adalah sebagai berikut:
a. Mereka biasanya bersifat linear;
b. Mereka biasanya menyajikan visual yang dinamis;
c. Mereka digunakan dengan cara yang telah ditetapkan sebelumnya oleh
perancang/pembuatnya;
d. Mereka merupakan representasi fisik dari gagasan real atau abstrak;
e. Mereka dikembangkan menurut prinsip psikologis behaviorisme dan kognitif;
f. Umumnya mereka berorientasi kepada guru dengan tingkat pelibatan interaktif
murid yang rendah.
Teknonlogi berbasis komputer merupakan cara menghasilkan atau menyampaikan
meteri dengan menggunakan sumber-sumber yang berbasis mikro-prosesor beberapa
cirri media yang dihasilkan teknologi berbasis computer (baik pernagkat keras
maupun perangkat lunak) adalah sebagai berikutr:
a. Mereka dapat digunakan secara acak, non-sekuensial, atau secara linar;
b. Mereka dapat digunakan berlandaskan keinginan siswa atau berdasarkan
keinginan perncang/pengembang sebagaimana direncanakannya;
c. Biasanya gagasan-gagasan disajikan dalam gaya abstrak dengan kata, symbol,
dan grafik;
d. Prinsip-prinsip ilmu kognitif untuk mengembangkan media ini;
e. Pembelajaran dapat beriorentasi siwa dan melibatkan interaktivitas siswa
yang tinggi.
Teknologi gabungan adalah cara untuk menghasilkan dan menyamoaikan materi yang
menggambungkan pemakaian beberapa bentuk media yang dikendalikan oleh komputer.
Beberapa ciri utama teknologi berbasis komputer adalah sebagai berikut:
Ia dapat digunakan secara acak, sekuensial, secara linear;
Ia dapat digunakan sesuai dengan keinginan siswa, bukan saja dengan cara yang
direncanakan dan diinginkan oleh perancangnya;
Gagasan-gagasan sering disajikan secara realistic dalam konteks pengalaman
siswa, menurut apa yang relevan dengan siwa, dan di bawah pengendalian siswa;
Prinsip ilmu kognitif dan konstuktivisme diterapkan dalam pengembangan dan
penggunaan pelajaran;
Pembelajaran ditata dan terpusat pada lingkup kognitif sehingga pengetahuan
dikuasai jika pelajaran itu digunakan;
Bahan-bahan pelajaran melibatkan banyak interaktivitas siwa;
Bahan-bahan pelajaran memadukan kata dan visual dari beberapa sumber.
Pengelompokkan berbagai jenis media apabila dilihat dari segi perkembangan
teknologi oleh Seels dan Glaslow (1990:181-183) dibagi ke dalam dua kategori
luas, yaitu pilihan media tradisional dan pilihan media teknologi mutakhir.
1. Pilihan media tradisional
a. Visual diam yang diproyeksikan
b. Visual yang tak diproyeksikan
c. Audio
d. Penyajian multimedia
e. Visual dinamis yang diproyeksikan
f. Cetak
g. Permainan
h. Realia
2. Pilihan Media Teknologi Mutakhir
a. Media berbasis telekomunikasi
b. Media berbasis mikroprosesor
Pemilihan media
Pada tingkat yang menyeluruh dan umum pemilihan media dapat digunakan dengan
mempertimbangkan factor-faktor berikut:
1. Hambatan penembangan dan pembelajaran yang meliputi faktor-faktor dana,
fasilitas dan peralatan yang telah tersedia, waktu yang tersedia (waktu
mengajar dan pengembangan materi dan media), sumber-sumber yang tersedia
(manusia dan material).
2. Persyaratan isi, yugas, dan jenis pembelajaran.
3. Hambatan dari sisi siswa dengan mempertimbangkan kemampuan dan keterampilan
awal.
4. Pertimbangan lainnya adalah tingkat kesenangan dan keefektifan biaya.
5. Media sekunder harus mendaopat perhatian karena pembelajaran yang berhasil
menggunakan media yang beraga.
Dari segi teori belajar, berbagai kondisi dan prinsip-prinsipm psikologis yang
perlu mendapat pertimbangan dalampemilihan dan penggunaan media adalah ebagai
berikut:
1. Motivasi
2. Perbedaan individual
3. Tujuan pembelajaran
4. organisasi isi
5. Persiapan sebelum belajar
6. Emosi
7. Partisipasi
8. Umpan balik
9. Penguatan (reinforcement)
10. latihan dan pengulangan
11. Penerapan
Ada beberapa kriteria yang patut diperhatikan dalam memilih media diantaranya:
Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Tepat untuk mendukung isi pelajarean yang sifatnya fakta, prinsip, konsep, atau
generalisasi.
Praktis, luwes, dan bertahan.
Guru terampil menggunakannya.
Pengelompokkan sasaran.
Mutu teknis.
Pemilihan media pembelajaran
Arief S. Sukadi (1986 : 83), mengemukakan bahwa mwedia pengajaran ditinjau dari
segi kesiapan pengadaannya dapat dikelompokkan kepada dua jenis, yaitu : 1)
Media jadi (media by utilization), 2) Media rancangan (media by design).
Disebut media jadi karena sudah merupakan komoditi perdagangan dan terdapat di
pasaran dan dijual secara bebas dan dalam keadaan siap pakai.[8]
- Prosedur pemilihan media
Sebagaimaa yang dikemukakan oleh Arif S Sadiman (1986:86),ada 3 model yang
dapat dijadikan prosedur dalam pemilihan media yang akan digunakan, yakni:
1. Model flowchart, model ini mengunakan system penguguran (eliminasi) dalam
pengambilan keputusan pemilihan.
2. Model Matrix, berupa penangguhan proses pengambilan keputusan pmilihan
sampai seluruh criteria pemilihannya diidentifikasi.
3. Model Checlist, yang menangguhkan keputusan pemilihan sampai semua
kriterianya dipertimbangkan.
Pengembangan media pembelajaran
Pengertian pengembangan media pembelajaran yang dimaksud adalah suatu usaha
penyusuan program media pembelajaran yang lebih tertuju pada perencanaan
media.Sehubungan dengan pengembangan media pelajaran ini, Arief S. Sadiman,
dkk. Mengemukakan urutan langkah-langkah yang perlu diambil dalam mengembangkan
program media, sebagai berikut :
1. Menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa.
2. Merumuskan tujuan instruksional (instructional objective) secara operasional
dan jelas.
3. Merumuskan butir-butir materi secara terperinci yang dapat mendukung
tercapainya tujuan.
4. Mengembangkan alat ukur keberhasilan.
5. Menulis naskah media.
6. Mengadakantes dan revisi.
Penggunaan media
Ada beberapa prinsip-prinsip penggunaan dan pengembangan media pembelajaran.
Media pembelajaran tersebut yaitu Media berbasis manusia (guru, instruktur,
tutor, main peran, kegiatan kelompok, dan lain-lain), media berbasis cetakan
(buku, penuntun, buku kerja,latihan, dan lembaran lepas), media berbasis visual
(buku,charts,grafik,peta, figur/gambar, transparansi, film bingkai atau slide),
media berbasis audio-visual (video, film,slide bersama tape,televisi), dan
media berbasis computer (pengajaran dengan bantuan computer dan video
intetktif).
Pengembangan media
Salah satu kriteria yang sebaiknya digunakan dalam pemilihan media adalah
dukungan terhadap isi bahan pelajaran dan kemudahan memperolehnya.. Apabila
media yang sesuai belum tersedia maka guru berupaya untuk mengembangkannya
sendiri. Media tersebut meliputi media berbasis visual ( yang berupa gambar,chart,
grafik, transparansi, dan slide), media berbasis audio-visual (video dan
audio-tape),dan media berbasis komputer (komputer dan video interaktif).
E.Evaluasi media pembelajaran
Evaluasi sepeti ini di uraikan pada bab terdahulu marupakan bagian integral dari
suatu proses instruksional diukur dari dua aspek, yaitu (1) bukti-bukti empiris
mengenai hasil belajar siswa yang dihasilkan oleh system instruksional, dan (2)
bukti-bukti yang menunjukkan berapa banyak kontribusi (sumbangan) media atau
media program terhadap keberhasilan dan keefektivan proses instruksional.
Evaluasi tentang kedua aspek tersebut masih terasa sulit untuk dikerjakan untuk
saat ini karena seringkali program media tidak bekerja sebagai bagian integral
dari keseluruhan proses pembelajaran.
Tujuan evaluasi media pembelajaran berkaitan dengan pernyataan-pernyataan
diatas yaitu:
Menentukan apakah media pembelajaran itu efektif.
Menentukan apakah media itu dapat diperbaiki atau ditingkatkan
Menetapkan apakah media itu cost-effective dilihat dari hasil belajar siswa.
Memilih media pembelajaran yang sesuai untuk dipergunakan dalam proses belajar
di dalam kalas.
Menentukan apakah isi pelajaran sudah tepat disajikan dengan media itu.
Menilai kumampuan guru menggunakan media pembelajaran.
Mengetahui apakah media pembelajaran itu benar-benar memberi sumbangan terhadap
hasil belajar seperti yang dinyatakan.
Mengetahui sikap siswa terhadap media pembelajaran
C. Evaluasi belajar
1. Definisi Evaluasi
Evaluasi artinya penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan
yang telah ditetapkan dalam sebuah program. Kata evaluasi adalah assessment
yang menurut Tardif dkk., (1989), berarti proses penilaian untuk menggambarkan
prestasi yang dicapai seorang siswa seuai dengan criteria yang telah ditetapan.
Selain kata evaluasi dan assessment ada pula kata lain yang searti dan relative
lebih dikenal dalam dunia pendidikan kita yakni tes, ujian, dan ulangan.[9]
2. Tujuan dan fungsi evaluasi
a. Tujuan Evaluasi
- Untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam kurun
waktu proses belajar tertentu.
- Untuk mengetahui posisi atau kedidikan seorang siswa dalam kelompok kelasnya.
- Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar
- Untuk mengetahui hingga sejauh mana sisw telah mendayagunakan kapasitas
kognitifnya (kemampuan kecerdasan yang dimilikinya) untuk keperluan belajar.
- Untuk mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode mengajar yang telah
digunakan dalam proses mengajar belajar (PMB).
b. Fungsi evaluasi
- Fungsi administrasi untuk penyusunan daftar nilai dan pengisian rapor
- Fungsi promosi untuk menetapkan kenaikan atau kelulusan
- Fungsi diagnostic untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa dan
merencanakan program remedial teaching (pengajaran perbaikan)
- Sebagai sumber data BP yang dapt memasok data siswa tertentu yang memerlukan
bimbingan dan penyuluhan (BP)
- Sebagai bahan pertimbangan pengembangan pada masa yang akan datang yang
meliputi pengembangan kurikulum, metode dan alat-alat untuk proses PMB
c. Ragam evaluasi
1. Pre-test dan post-test
2. Evaluasi prasyarat
3. Evaluasi diagnostic
4. Evaluasi formatif
5. Evaluasi sumatif
6. Ujian akhir nasional (UAN)
d. Ragam alat evaluasi
-Bentuk objektif (Tes benar-salah,Tes piihan berganda,Tes pencocokan
(menjodohkan), Tes lisan, Tes pelengkapan (melengjapi)
- Bentuk subyektif
e. Syarat alat evaluasi
Persyaratan pokok penyusunan alat evaluasi yang baik dalam perspektif psikologi
belajar (The psychology of learning0 melalui dua macam, yakni: 1) reliabilitas;
2) Validitas (Cross,1974;Barlow,1985;Butler,1990). Persyaratan lain seperti
obyektif, diskriminatif, dan sebagainya.
f. Evaluasi pelbagai ranah psikologis
a. Evaluasi prestasi kognitif
b. Evaluasi prestasi afektif
Kedudukan evaluasi didalam kurikulum dan pengajaran
- Pengertian evaluasi dalam pengajaran
Dalam arti luas, evaluasi adalah proses merencanakan, memperoleh, dan
menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat
alternative-alternatif keputusan (Mehrens dan Lehmann, 1987:5).[10] Sesuai dengan pengertian tersebut maka
setiap kegiatan evaluasi atau penilaian merupakan suatu proses yang sengaja
direncanakan untuk memperoleh informasi atau data; berdasarkan data tersebut
kemudian dicoba membuat suatu keputusan.Daklam hubungan dengan kegiatan
pengajaran. Norman E. Gronlund (1976) merumuskan pengertian evaluasi sebagai berikut:
“Evaluation….a systematic process of determining the extent to which
instructional objectives are achieved by pupils”.(Evaluasi adalah suatu proses
yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana
tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa.).
Sedikitnya ada tiga aspekyang perlu diperhatikan untuk lebih memahami apa yang
dimaksud dengan evaluasi, khususnya evaluasi penajaran, yaitu:
1. Kegiatan evaluasi merupakan proses yang sistematis.
2. Di dalam kegiatan evaluasi diperlukan berbagai informasi atau data yang
menyangkut ojek yang sedang dievaluasi.
3. Setiap kegiatan evaluasi – khususnya evaluasi pengajaran – tidak dapat
dilepaskan dari tujuan-tujuan pengajaran yang hendak dicapai.
Fungsi evaluasi dalam proses belajar-mengajar,yaitu
1. Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan siswa setelah
mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu tertentu.
2. Untuk mengetahui tinkat keberhasilan program pengajaran.
3. Untuk keperluan Bimbingan dan konseling.
4. Unuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang
bersangkutan.
Ciri-ciri program evaluasi yang baik
1) Desain atau rancangan program evaluasi itu komprehensif
2) Perubahan-perubahan tingkah laku individu harus mendasari penilaian
pertumbuhan dan perkembangannya.
3) Hasil-hasil evaluasi harus disusun dan dikelompok-kelompokan sedemiian rupa
sehingga memudahkan interpretasi yang berarti.
4) Program evaluasi haruslah berkesinambungan dan saling berkaitan
(interrelated) dengan kurikulum.
Untuk mengukur kesesuaian, efisiensi, dan kemantapan (consistency) suatu alat
penilaian atau suatu tes diperguakan bermacam-macam kualitas seperti Validitas,
keandalan, objektivitas, dan kepraktisan (practicability).
Belajar mengurutkan apa yang telah kita lakukan, kita katakan, kita rasakan
selama ini. lalu kita pahami, kita telaah, kita evaluasi. berapa perbandingan
antara yang baik dan tidak baik, salah dan benar. bagiku adalah merupakan
sebuah proses menuju perubahan kearah yang lebih baik dari sebelumnya.hari ini
harus lebih baik dari hari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari
ini.menurutku secara sadar lebih sulit untuk mengubah salah menjadi benar
daripada mengubah benar menjadi salah.Dan terkadang menurutku juga secara sadar
lebih sulit menjalankan hidup ini dengan apa adanya dan menjadi diri sendiri
daripada menjalankan hidup ini dengan ada apanya dan menjadi orang lain dalam
diri sendiri.memahami, menikmati dan mensyukuri bagiku adalah sebuah cara
belajar untuk ke arah yang lebih baik dalam hidup ini, baik untuk diri sendiri,
keluarga ataupun kepada orang lain.[11]
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dalam pembahasan makalah ini, maka dapat kami ambil kesimpulan bahwa para
rancangan pembelajaran mempunyai peran yang samgat penting dalam sebuah
pendidikan dikarenakan pembahasan yang terdapat di rancangan pembelajaran
meliputi metode dan stratergi pembelajaran, media pembelajaran, dan evaluasi
belajar. Stratergi dan metode pembelajaran sangat penting untuk peserta didik
karena mereka bisa menerapkan berbagai macam cara untukmeningkatkan kualitas
belajar peserta didik.Media pembelajaran juga mempunyai peran yang sangat
penting dalam proses pembelajaran karena bagaimana mungkin sebuah rancangan
pembelajaran bias efektif tanpa ada media yang digunakan dalam sebuah rancangan
pembelajaran.Evaluasi belajar juga memiliki peran yang sangat penting karena
dengan melakukan evaluasi belajar kita dapat mengetahui seberapa besar manfaat
dari metode,stratergi, dan media pembelajaran yang telah kita pilih sebelumnya.
B. SARAN
Berkaitan dengan pembahasan makalah ini, maka pemakalah sekaligus menyarankan
agar:
Melalui pembahasan makalah ini, pemakalah mengharapkan dari semua pihak,
terutama aktifis STAIN SAS Bangka-Belitung untuk memberikan kritik dan saran
yang bersifat membangun. Agar kedepannya makalah yang dibuat akan menjadi lebih
baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Asnawir, Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, 2002, Jakarta:Ciputat Pers.
Syah,Muhibbin, Psikologi Belajar, 2003, Jakarta:PT Raja Grafindo Persada..
Syamsuddin Makmun,Abin, Psikologi Kependidikan Perangkat system Pengajaran
Modul, 1996, Bandung:PT Remaja Rosdakarya.
Baharuuddin, Psikologi Pendidikan Refleksi Teoretis Terhadap Fenomema, 2007,
-:Ar-Ruzz Media.
Syah Muhibbin, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, 2000, Bandung:PT
Remaja Rosdakarya.
Zaini,Hisyam, dkk, Strategi Pembelajaran Aktif, 2007, Yogyakarta:CTSD.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar